Selasa, 03 November 2020

Pembahasan Al-Qur'an tentang Hakikat Pengikut Nabi


 Benarkah kita Pengikut Nabi yang Penuh Rahmat ?

Seorang mukmin pasti penuh dengan rahmat dan kasih sayang. Jika tidak, perlu ditanyakan kembali keimanannya?

Mengapa demikian?

Karena Allah swt penuh dengan rahmat, bagaimana dia mengaku pecinta Allah namun berseberangan dengan-Nya?

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ يُؤْمِنُونَ -١٥٦-

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”

(QS. Al-A’raf (7) : 156)

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ -٨٣-

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhan-nya, “(Ya Tuhan-ku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

(QS. Al-Anbiya’ (21) : 83) 

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ -١٤٧-

Maka jika mereka mendustakan kamu, katakanlah, “Tuhan-mu Mempunyai rahmat yang luas.”

(QS. Al-An’am (6) : 147)

Nabi Muhammad saw pun penuh dengan rahmat dan kasih sayang.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ -١٠٧-

“Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."

(QS. Al-Anbiya’ (21) : 107) 


لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ -١٢٨-

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

(QS. At-Taubah (9) : 128) 

Bahkan Al-Qur’an sebagai kitab syariat dan petunjuk pun memiliki sifat rahmat dan kasih sayang. 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ-٨٢-

“Dan Kami Turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman.”

(QS. Al-Isra’ (17) : 82)

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ -٨٩-

“Dan Kami Turunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).”

(QS. An-Nahl (16) : 89)

 

 Jangan heran jika Al-Qur’an menyebut pengikut Rasulullah saw adalah yang penuh kasih sayang diantara mereka.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ-٢٩-

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

(QS. Al-Fath (48) : 29)

Masih adakah alasan untuk bermusuhan dengan sesama muslim? Masih adakah alasan untuk bersikap keras dengan mereka?

Rasulullah saw ketika mengahdapi orang yang salah pun dengan sikap lemah lembut, tidak ada dalil untuk memaksa orang dengan kekerasan.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ -١٥٩-

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

(QS. Ali Imran (3) : 159) 

Ingatkah anda Rasulullah saw pernah berpesan,

“Bukan bagian dari kami, seorang yang tidak menyayangi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar.”

Seorang yang tidak memiliki rasa kasih sayang dengan sesamanya tidak dianggap sebagai pengikut Rasulullah saw, hadist ini bukan hanya ancaman biasa. Bagaimana nasib seseorang jika tidak berada dalam golongan Rasulullah saw?

Selasa, 13 Oktober 2020

Cara Bersyukur Menurut Al-Qur'an

 

Bersyukurlah Dengan Dua Cara Ini !

Allah Swt Berfirman :

وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai.”

(QS. An-Naml (27) : 19)

Tanda syukur seseorang atas nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya adalah dengan selalu mengucap kalimat syukur dengan lisan dan juga menampilkan rasa syukurnya dengan perbuatan.

Pentingnya untuk selalu istiqomah dalam syukur dengan lisan tergambar dalam ayat di atas :

رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku.”

Sementara syukur dengan perbuatan juga digambarkan dalam penggalan ayat selanjutnya.

وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ

“Dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai.”

Maka bersyukur dengan lisan adalah awal yang sangat penting sebagai kesadaran dalam diri kita bahwa semua ini pemberiam Allah Swt. Sedangkan syukur dengan perbuatan adalah pembuktian kita bahwa kita benar-benar berterima kasih atas kebaikan yang Allah berikan. Dan semua kenikmatan itu akan kita jaga dan tidak kita gunakan untuk sesuatu yang memancing kemurkaan Sang Pemberi Nikmat.

Ayat ini juga memberi pelajaran bahwa setiap saat kita diminta untuk selalu memohon kepada Allah agar membimbing kita untuk bersyukur. 


Karena kita tidak mampu bersyukur bila tidak ada bimbingan dari-Nya.

Senin, 12 Oktober 2020

Pembahasan Hadits tentang Khusyu' dalam Sholat

 


Khusyu' dalam shalat

------------------

Sahih al-Bukhori:1125


عَنْ زَيْد بْن أَرْقَمَ:

إِنْ كُنَّا لَنَتَكَلَّمُ فِي الصَّلاَةِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُكَلِّمُ أَحَدُنَا صَاحِبَهُ بِحَاجَتِهِ حَتَّى نَزَلَتْ: حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ الأيَةَ، فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ.

Dari Zaid ibn Arqam:

Pada zaman Nabi saw kami berbicara ketika sedang shalat, seorang diantara kami berbicara dengan temannya tentang kebutuhannya. Hingga turun ayat: Peliharalah seluruh shalat kalian, maka kami diperintahkan untuk diam.

Pesan :

Berbicara dalam shalat adalah hal yang dilarang dan dapat membatalkan shalat. Dahulu, para sahabat biasa berbicara mengenai kebutuhan satu sama lain dalam shalat mereka, hingga Allah berfirman dalam ayat 238 surat al-Baqarah, yang berisi perintah untuk menjaga kekhusyuan dalam shalat. Setelah ayat itu turun, para sahabat tidak berbicara lagi dalam shalat mereka dan menunaikan shalat dengan khusyu'.


Sabtu, 10 Oktober 2020

Pembahasan Al-Qur'an tentang Taqwa dan Tujuannya

 Takwa Adalah Tujuan Sekaligus Wasilah.



Kita telah mengetahui bahwa tujuan dari penciptaan manusia dan jin adalah untuk ibadah, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah Swt.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat (51) : 56)

Tapi apa tujuan dari ibadah itu sendiri?

Kita akan temukan jawabannya dalam Firman Allah Swt.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah (2) : 21)

Dari ayat ini kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan dari ibadah adalah agar manusia sampai pada ketakwaan. 

Seperti halnya ibadah puasa dalam sebuah ayat dijelaskan bahwa tujuan dibaliknya adalah agar manusia sampai pada ketakwaan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah (2) : 183)

Akan tetapi, takwa sebagaimana ia adalah tujuan, tapi takwa juga adalah wasilah yang akan mengantarkan seseorang kepada dua tujuan yang lebih agung dan lebih tinggi, yaitu :

1. Agar manusia mencapai kedudukan syukur.

Allah Swt Berfirman :

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya.”

(QS. Ali ‘Imran (3) : 123) 

2. Agar manusia meraih kesuksesan dan keselamatan sebagai tujuan utama dalam kehidupan.

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

(QS. Ali ‘Imran (3) : 130) 

Karena itulah takwa adalah tujuan sekaligus wasilah untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bertaqwa.

Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bisshowab.

Silabus Qur'an Hadits SMP / MTs Kelas 7

 

Perangkat pembelajaran Qur'an Hadits untuk SMP / MTs kelas 7. Silakan bisa di download di link dibawah ini 👇

Asal usul terjadinya alam semesta berdasarkan al-Qur'an

Alam semesta yang begitu luas membuat kita penasaran bagaimana penciptaannya. Berikut ini kami sampaikan video tentang terjadinya alam semesta sesuai dengan yang ada di dalam al-Qur'an.

silakan bisa di klik link dibawah ini

video Terjadinya alam semesta 

semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bisshowab.

Jumat, 09 Oktober 2020

Pembahasan Hadits tentang Amalan di Hari Jum'at

 Amalan Dihari Jum'at 


عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ أَتَى الجُمعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْن الجُمُعَةِ وَزِيادَةُ ثَلاثَةِ أيَّامٍ، وَمَنْ مَسَّ الحَصَا فَقَدْ لَغَا)). رواه مسلم. 


Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang berwudhu' lalu memperbaguskan wudhu'nya kemudian mendatangi shalat Jum'at, lalu mendengarkan - khutbah serta berdiam diri - tidak bercakap-cakap sedikitpun, maka diampunilah untuk antara Jum'at itu dengan Jum'at yang berikutnya dan ditambah pula dengan tiga hari lagi. Barangsiapa yang memegang - mempermain-mainkan - batu kerikil - di waktu ada khutbah - maka ia telah berbuat kesalahan." (Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1- Berwudhu merupakan syarat sahnya shalat maka hendaknya dilakukan dengan benar, baik dan sempurna.

2- Makna ampunan baginya diantara dua Jumat dan ditambah tiga hari, yaitu: Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dengan sepuluh semisalnya.

3- Hadist tersebut sebagai isyarat adanya anjuran untuk fokus yaitu: hati, fikiran dan seluruh anggota badan kepada khutbah, dan menjauhkan dari yang sia-sia.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran: 

- Allah Swt. telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk berkumpul guna mengerjakan ibadah kepada-Nya di hari Jumat. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah. (Al-Jumu'ah: 9).


Kamis, 08 Oktober 2020

Pembahasan Al-Qur'an tentang Hukuman Pencuri

Hukuman Pencuri



 وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa, Maha Bijaksana." (QS Al-Ma'idah : 38)

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Tetapi barang siapa bertobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS Al-Ma'idah : 39)

Tafsir Ringkas Kemenag RI QS Al-Ma'idah : 38

Bila pada ayat yang lalu dijelaskan tentang hukuman   bagi   orang    yang   memerangi  Allah    dan    Rasul- Nya    dan    membuat  kekacauan,       maka       pada       ayat       ini  diterangkan      tentang      hukuman      bagi  pencuri.      Setiap     kejahatan    pasti    ada  hukumannya.

Adapun  setiap    orang   laki- laki   maupun perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan   keduanya  sebagai   balasan   atas perbuatan buruk dan bertentangan dengan syari'at yang  mereka  lakukan,  dan   hal itu juga    sebagai  siksaan  dari   Allah   sesuai dengan  peringatan- Nya. Sungguh dengan ketetapan  dan peringatan  ini,  Allah  Maha Perkasa, Maha Bijaksana. 

Tafsir Ringkas Kemenag RI QS Al-Ma'idah : 39

Yang dijelaskan itu   merupakan  ketetapan Allah, tetapi  barang siapa bertobat setelah melakukan  kejahatan     itu,  menyesalinya, dan memperbaiki diri,   serta berjanji  untuk tidak mengulanginya, maka sesungguhnya Allah menerima  tobatnya  yang dilakukan   dengan sepenuh hati. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. 

Rabu, 07 Oktober 2020

Pembahasan Hadits tentang Sholat Jama'


 

Jama' shalat

------------------

Sahih al-Bukhori:1044


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:

 كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا، وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ.

Dari Anas ibn Malik ra, dia berkata: 

Nabi saw. bila berangkat bepergian sebelum matahari condong, beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat zuhur hingga waktu shalat ashar lalu menggabungkan (jama') keduanya. Dan bila (berangkat) setelah matahari condong, beliau melaksanakan shalat zuhur terlebih dahulu kemudian berangkat.

Pesan :

1. Menjama' shalat adalah menggabungkan dua shalat di satu waktu.

2. Shalat yang bisa dijama' adalah zuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya.

3. Jama' terbagi menjadi dua, jama' taqdim yaitu mengerjakan shalat di waktu yang pertama (misal jama' zuhur dan ashar, dikerjakan di waktu zuhur), dan jama' ta'khir yaitu mengerjakan shalat di waktu yang kedua, seperti contoh dalam hadis riwayat Ibn Umar tersebut, (misal jama' zuhur dan ashar, dikerjakan di waktu ashar), begitu juga dengan maghrib dan isya'.

4. Jadi, ketika bepergian Allah memberikan Rukhsoh yaitu dengan menjama' sholat fardhu. Menjama' artinya menggabungkan 2 waktu sholat menjadi satu dan hal tersebut sangat memudahkan bagi orang yang sedang bepergian karena semua orang tahu ketika orang bepergian apalagi naik kendaraan umum maka akan susah melaksanakan sholat tepat waktu sehingga jama' sholat merupakan kemudahan yang sangat berharga. Wallahu a'lam bisshowab.

semoga bermanfaat.


Selasa, 06 Oktober 2020

Pembahasan Hadits tentang Sholat diatas Hewan Tunggangan

 Shalat di atas hewan tunggangan

------------------

Sahih al-Bukhori:1035


عَنْ جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ.

Dari Jabir ibn Abdillah:

Bahwa Nabi saw mendirikan shalat diatas hewan tunggangannya menghadap ke timur. Jika beliau hendak melaksanakan shalat wajib, maka beliau turun dan melaksanakannya dengan menghadap qiblat.

Pesan :

            Ketika bepergian jauh, Rasulullah melaksanakan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya, jika beliau hendak shalat fardu, beliau turun terlebih dahulu, menghadap qiblat dan melaksanakan shalat fardu tersebut. 

            Hadits diatas menjelaskan tentang bagaimana melaksanakan sholat diatas hewan tunggangan. Seperti yang di contohkan Rasulullah saw., bahwasannya ketika Rasulullah saw. bepergian dengan naik hewan tunggangan dan ketika beliau hendak melaksanakan sholat sunnah, beliau melaksanakannya diatas hewan tunggangannya tersebut, kemanapun hewan tunggangan itu menghadap beliau sholat sebagaimana hewan tunggangan itu menghadap. Tetapi ketika beliau saw. hendak melaksanakan sholat fardhu / sholat wajib beliau turun dari hewan tunggangannya kemudian sholat menghadap kiblat.

            Jadi, ketika kita bepergian dengan tunggangan dan hendak melaksanakan sholat sunnah, bisa melaksanakan diatas tunggangannya. Tetapi ketika hendak melaksanakan sholat wajib maka hendaknya turun dari tunggangannya dan menghadap kiblat. Wallahu a'lam bisshawab.

semoga bermanfaat.

            


Senin, 05 Oktober 2020

Hukum Bacaan Idzhar Halqi

a. Pengertian Idzhar Halqi

            Menurut bahasa Idzhar artinya jelas, tidak berdengung. Sedangkan menurut istilah, idzhar yaitu apabila ada nun sukun (نْ) atau tanwin bertemu dengan huruf   اح خ غ ع ه . Jadi, ketika di dalam al-Qur'an ada bacaan nun sukun atau tanwin bertemu huruf yang tersebut diatas maka dibaca Idzhar Halqi dan hukum bacaannya adalah jelas, atau tidak berdengung.

b. Huruf Idzhar Halqi

Huruf-huruf yang termasuk dalam Idzhar Halqi ada 6 (enam) yaitu اح خ غ ع ه .

c. Contoh bacaan Idzhar Halqi

 مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ  نْ / ً   ٍ  ٌ   ---  ا

وَانْحَرْ   → نْ / ً   ٍ  ٌ   --- ح

 وَالۡمُنۡخَنِقَةُ نْ / ً   ٍ  ٌ   --- خ

وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ → نْ / ً   ٍ  ٌ   --- ع

قَوۡلاً غَيۡرَ نْ / ً   ٍ  ٌ   --- غ

مِنۡهُ  نْ / ً   ٍ  ٌ   --- ه 


semoga bermanfaat.


Kamis, 24 September 2020

Pembahasan Hadits tentang Qadha Sholat



 Qadha shalat

------------------

Sahih al-Bukhori:562


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: 

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ.


Dari Anas ibn Malik, dari Nabi saw beliau bersabda: Barangsiapa yang lupa menunaikan suatu shalat, maka hendaklah dia melaksanakannya ketika dia ingat, karena tidak ada tebusannya kecuali itu. 

Pesan :

Shalat adalah salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada seorang muslim. Allah memberikan perintah shalat kepada Rasulullah saat perisitiwa Isra Miraj. Shalat adalah suatu kewajiban, dan layaknya sebuah hutang kepada manusia, shalat yang ditinggalkan bagaikan hutang seorang hamba kepada Allah, yang harus dilunasi dengan mengqadha shalat tersebut. Qadha shalat bisa dilakukan kapan saja, jika anda lupa atau tertidur di waktu ashar dan baru ingat bahwa belum menunaikan shalat ashar di waktu isya, maka hendaknya anda mengerjakan shalat tersebut saat anda mengingatnya, yaitu di waktu isya.


Rabu, 23 September 2020

Pembahasan al-Qur'an tentang harta Kalaalah



Al-Qur'an adalah kitab yang lengkap untuk pedoman hidup kita

 يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalaalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalaalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”" (QS An-Nisa' : 176)

Tafsir al-Muyassar

       Mereka   bertanya  kepadamu   wahai  Nabi tentang     hukum    warisan   kalalah,   yaitu mayit yang tidak mempunyai orang tua dan anak.    Katakanlah,     "Allah     menjelaskan hukumnya kepada  kalian,   bila  seseorang wafat    sedangkan   dia   tidak  mempunyai orang tua dan anak, namun dia mempunyai saudara   perempuan   seayah   dan   seibu  atau seayah saja,  maka  dia mendapatkan setengah    warisan.   Sementara   saudara  laki- lakinya    baik    sekandung    maupun seayah mewarisi seluruh hartanya  bila dia mati  tanpa  meninggalkan  orang  tua  dan  anak.      Bila     mayit     dalam     kalalah    ini mempunyai        dua         orang         saudara  perempuan, maka keduanya mendapatkan dua pertiga dari apa yang ditinggalkannya. Bila saudara- saudara laki- laki  berkumpul dengan    saudara- saudara    perempuan  yang  bukan    seibu,   maka  laki- laki  dari   mereka   mendapatkan   dua   bagian    dari  perempuan."  Allah   menjelaskan    kepada kalian    pembagian   warisan    dan   hukum kalalah agar kalian tidak tersesat dari jalan yang  benar dalam  perkara   warisan. Allah mengetahui akibat segala perkara dan apa yang mengandung kebaikan   bagi  hamba- hamba- Nya



Sabtu, 31 Oktober 2015

Pembahasan Al-Qur'an tentang Kepedulian Sosial

KEPEDULIAN SOSIAL

            Peduli menurut bahasa artinya memperhatikan atau menghiraukan.Menaruh peduli berarti menaruh perhatian atau menghiraukan sesuatu.Kepedulian berarti sikap perhatian atau memperhatikan sesuatu.Kata sosial berarti segala sesuatu mengenai masyarakat atau kemasyarakatan.Jadi kepedulian sosial artinya sikap memperhatikan atau menghiraukan urusan oranglain.Dan yang dimaksud kepedulian sosial bukan berarti mencampuri urusan oranglain akan tetapi membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi orang lain dengan tujuan perdamaian atau kebaikan.Manusia perlu memiliki kepedulian sosial, karena manusia diciptakan oleh Allah tidak dapat hidup denga dirinya sendiri.Dengan demikian seseorang perlu mengadakan hubungan kerja sama dengan yang lainnya.Seseorang menjadi pandai karena mendapat pengajaran dari oranglain, seseorang jadi kaya karena bantuan oranglain, orang miskin dapat makan minum karena orang lain, dan seterusnya.
            Kerja sama dengan oranglain dapat terbina dengan baik jika diantara masing-masing anggota mempunyai kepedulian sosial, suka membantu orang yang sedang kesulitan.Meringankan beban orang lain merupakan bentuk kepedulian sosial.Kepedulian sosial mempunyai dampak positif dalam bermasyarakat, antara lain :
1.     Terwujudnya sikap hidup tolong menolong sesama anggota masyarakat.
2.      Terjalinnya hubungan batin diantara anggota masyarakat.
3.      Menumbuhkan kerukunan dan kebersamaan antara anggota masyarakat.
4.      Terjadi pemerataan kesejahteraan.
5.      Terwujudnya kesatuan dan persatuan.
6.      Menghilangkan rasa dendam dan dengki antara anggota masyarakat.
7.      Menciptakan kondisi masyarakat yang kuat dan harmonis.
Ayat tentang kepedulian sosial
Q.S.Al-Kautsar : 1 – 3
انا اعطينك الكوثر (1) فصل لربك وانحر (2) ان شا نءك هو الابتر (3)
Artinya :
“Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus ”. (Q.S.Al-Kautsar : 1 -3)
Kandungan Surah
            Dalam ayat tersbut perintah sholat diikuti dengan perintah berqurban (menyembelih hewan untuk berqurban den ga tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.).Qurban merupakan ibadah yang memiliki dua dimensi yaitu ibadah kepada Allah dan ibadah sosial.Qurban dikatakan ibadah kepada Allah karena merupakan wujud ketaatan dan keikhlasan kepada-Nya.Sedangkan nilai sosialnya karena sebagian daging kurban dibagikan kepada masyarakat, fakir miskin utamanya.
            Sesudah Allah menghibur dan menggembirakan Rasul-Nya serta memerintahkan supaya mensyukuri anugrah-anugrah-Nya dan sebagai kesempurnaan ni’mat-Nya, maka Allah menjadikan musuh-musuh Nabi itu hina dan tidak percaya.Sungguh Allah telah menepati janji-Nya dengan menghinakan dan  menjatuhkan martabat orang-orang yang mencaci Nabi, sehingga nama mereka hanya diingat ketika membicarakan orang-orang jahat dan kejahatannya.
            Kesimpulan yang dapat diambil dari kandungan surah diatas ialah bahwa Allah telah menganugrahkan kepada Nabi Muhammad saw. ni’mat yang banyak, oleh karena itu sebagai tanda rasa syukur, Allah swt. Memerintahkan kepada beliau untuk mengerjakan sholat dan menyembelih hewan qurban dengan niat ikhlas karena Allah semata.
Keterkaitan Surah Al-Kautsar tentang kepedulian sosial dalam fenomena kehidupan
            Terdapat keterkaitan dalam surah Al-Kautsar dengan kepedulian sosial.Keterkaitan itu adalah sebagai berikut :
1.      Mengandung pengajaran agar umat islam memiliki kepedulian sosial dalam kehidupan.

2.      Bentuk kepedulian sosial yang dimaksud dalam surah Al-kautsar adalah penyembelihan hewan qurban, dimana dagingnya diberikan kepada orang lain utamanya kepada fakir miskin.

Minggu, 25 Oktober 2015

Pembahasan Hadits Tentang Tolong Menolong

TOLONG MENOLONG

            Agama islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, ajaran islam tidak hanya membicarakan hubungan manusia dengan sang pencipta saja, tetapi juga mengajarkan kepada pemeluknya, bagaimana cara hidup bermasyarakat yang baik.Karena manusia tidak terlepas dari hidup bermasyarakat, saling berhubungan satu dengan yang lainnya, maka islam mengajarkan bagaimana cara tolong menolong yanga baik yang diridhoi oleh Allah SWT.Berikut sabda Rasulullah saw. Yang mengajarkan kepada pemeluknya untuk saling menolong.
Hadits tentang tolong-menolong
المسلم اخوالمسلم لايظلمه ولايسلمه ومن كان فى حاجة اخيه كان الله فى حاجته ومن فرّج عن مسلم كربة فرّج الله عنه كربة من كربات يوم القيامة ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة.
Artinya:
            “Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain.Ia tidak boleh menganiaya dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh).Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, Allah akan (membalas) membantu keperluannya.Barangsiapa membebaskan seorang muslim dari kesusahan, Allah akan membebaskan satu kesusahan dirinya dari beberapa kesusahan pada hari kiamat.Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat.”(H.R.Bukhari)
Kandungan hadits
            Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari ini Rasulullah saw. menyatakan bahwa segenap kaum muslimin adalah bersaudara.Oleh karena itu sebagai bukti dari persaudaraan itu hendaknya satu sama lain saling menghormati hak masing-masing, tidak melakukan kedholiman dan kejahatan, bahkan satu sama lain harus saling membantu dan melindungi dari ancaman musuh maupun orang lain yang bermaksud tidak baik,serta selalu berupaya untuk membentuk kemaslahatan bersama.
            Maka barangsiapa yang berbuat seperti itu, Allah memberikan beberapa janji kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut, yaitu:
a.       Orang yang mau membantu saudara sesama muslim, Allah akan membantu dalam memenuhi kebutuhannya.
b.      Orang yang mau melepaskan penderitaan sesama orang muslim, Allah akan melepaskan kesusahannya di dunia dan akhirat.
c.       Orang yang mau menutupi aib saudara sesama muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di hari kiamat.
d.      Orang yang melangkan kesusahan saudara sesama muslim, Allah akan melapangkan kesusahannya di hari kiamat.
e.       Orang yang meringankan beban penderitaan saudara sesama muslim, Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan di akhirat.
f.       Kesediaan orang yang mau menolong saudara sesama muslim, Allah akan selalu menolongnya.

Oleh karena itu setiap muslim hendaknya berperangai mulia terhadap orang lain.Persaudaraan sesama muslim itu meliputi seluruh aspek kehidupan.Dan balasan Allah kepada orang yang berbuat baik itu tidak terbatas kepada berhasil tidaknya pekerjaan itu, tetapi terletak pada niat dan usahanya.  

Minggu, 04 Oktober 2015

Soal UTS

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan jelas
1. Jelaskan dengan disertai contohnya dalam keadaan bagaimana huruf lam dibaca tafkhim!
2. Jelaskan perbedaan antara idghom bighunnah dan idghom bilaghunnah, dengan disertai contohnya masing-masing dua !
3. Apakah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada suku quraisy setelah mendapat rezeki darinya?
4. Sebutkan rezeki yang Allah berikan kepada quraisy sebagaimana disebutkan dalam Q.S.Quraisy !
5. Apakah yang dimaksud mad layin?

Hukum Bacaan Qalqalah

Hukum Bacaan Qalqalah
a. Pengertian qalqalah
            Menurut bahasa qalqalah berarti gerak, getaran suara.Sedangkan menurut istilah qalqalah ialah membunyikan huruf-huruf tertentu pada suatu kalimat dengan suara memantul secara tiba-tiba, sehingga terdengar suara membalik atau terdengar getaran suara.

b. Huruf - huruf qalqalah
            Huruf - huruf qalqalah ada 5 (lima) yaitu : ba - jim - tha - dal - qaf.

c. Macam - macam qalqalah
    bacaan qalqalah di bagi menjadi dua macam yaitu :
   1) Qalqalah kubra 
                 Qalqalah kubra yaitu apabila terdapat salah satu huruf  qalqalah yang dibaca mati karena diwaqafkan, dan terletak di akhir kata.Jadi jelasnya, huruf qalqalah tersebut sebenarnya berharakat hidup, namun karena diwaqafkan maka dibaca mati.Kubra artinya besar. Maka cara membacanya harus mantap memantulkan suara dengan pantulan yang kuat.
   2) Qalqalah sughra
                 Qalqalah sughra ialah apabila terdapat huruf qalqalah yang disukun (berbaris mati) dan terletak ditengah kata.Sughra artinya kecil.jadi cara membacanya ialah memantulkan suara dengan pantulan yang kecil tidak terlalu kuat sebagaimana pada qalqalah kubra.

Minggu, 27 September 2015